Seorang wanita yang berada di posisi kebingungan, menangis atau harus tersenyum, sudah habis kata-kata, apakah harus tetap mencinta, atau harus berhenti sampai disini.
Tanpa dirimu, aku merasakan heningnya dan kejamnya sakit ini, tapi dengan dirimu, terkadang aku terjatuh, tapi kusadari hanya kamu yang bisa membuatku tersenyum sekaligus menangis.
Tak pernah kubayangkan, dan tak bisa kubayangkan, gelap rasanya, abu-abu warnanya, kalau kau tidak disampingku, apakah warnanya merah, atau warnanya hitam? tak dapat ditelaah, terlalu abu-abu untuk dilihat seperti kabut yang menggelapi mata ini.
Disini ku duduk, kebingungan, apakah aku harus berlari ke arah lain, berjalan di tempat, atau meneruskan langkahku bersamamu? apakah cinta harus ada sesuatu yang dikorbankan walaupun harus menginjak martabat diri hanya untuk mendapatkan segumpal emas kebahagiaan darimu
Telah dan selalu kumaafkan, bahkan berkali-kali kesalahanmu, selalu terucap kata maaf darimu dan kuterima maaf itu, karna aku memaafkanmu. tapi aku menjadi ragu apakah kamu dapat berubah, atau akukah yang salah? aku meragui kesempatan yang kuberikan, aku meragui kemampuan dirimu dan diriku akan sebuah ombak yang menghadang kapal besar dimana kita berdua di dalamnya.
Kuakui kau yang terbaik yang pernah ku punya di dalam hidupku, kaulah sahabat terbaikku, kaulah semangatku, kaulah takdirku, kaulah inspirasiku, guruku, maka itu aku berada di posisi kebingungan, apakah aku harus "berjalan di tempat?", "berhenti dan berlari ke arah lain", atau tetap berada di posisi yang sama dan berjalan bersamamu lagi? mendayung beratnya perahu ini, perahu yang kita buat bersama-sama bertahun-tahun.
Cinta...Cinta...Cinta, suatu kata yang sangat mudah diucap, sering didengar, dikenal semua orang walau bayi sekalipun, tapi maknanya tidak pernah ditemukan seperti sejelas seberapa jauh matahari itu, selalu kita rasakan panasnya matahari itu setiap hari, selalu kita ketahui dan jelas bahwa seberapa panas matahari itu, sering kita dengar, bahkan bayi sekalipun tau rasanya matahari ketika sang ibu menjemurnya untuk mendapatkan vitamin D, tapi sekali lagi seperti matahari adalah cinta, tidak ada yang tau jelas exactly seberapa jauh dia berada, seberapa panas ketika menyentuhnya menggunakan telapak tangan kita, susah dijelaskan dengan detail. Itulah Cinta, hanya bisa kita rasakan, hanya bisa kita cicipi, hanya bisa membuat kita keringat dingin ketika bertemu si dia, tapi tidak tau matahari terbuat dari apa, tidak tahu cinta itu apa. Cinta berbeda menurut masing-masing orang, seperti pengalaman kita terhadap sinar matahari.
Kau adalah nyawaku, tanpamu ku merana, tanpamu aku kosong, tanpamu aku terdiam dan berkata-kata, tanpamu hidupku tak bersemangat. Mana yang harus didahulukan, mencintai diri sendiri, menjaga martabat diri, atau mencintai orang yang kamu cintai karna kamu tahu dialah nyawa dan semangatmu, mencintai sampai terkadang kita harus merendahkan martabat kita sendiri? apakah ini yang dinamakan cinta atau ini yg dinamakan ketakutan akan kekosongan hidup, ketakutan akan hari esok, ketakutan dan ragu apa aku siap hidup tanpanya? inikah cinta itu sendiri? cinta karna takut kehilangan seperti ada sesuatu yang diambil dari kita? tak jelas, abu-abu warnanya, tidak ada yang tau maknanya.
Aku merasa ada di dalam posisi setengah mencintai diri sendiri, dan setengah mencintai dirinya. Mencintai diri sendiri, karena takut merasakan kesedihan yang terdalam, takut merasakan kekosongan ketika dia tidak disampingku, at the same time memaafkan. MAAF...apa sih artinya? ketika kita memaafkan orang yang kita cintai, sebenarnya kita sudah memaafkan diri kita sendiri, sebenarnya kita juga egois, karena kita tahu kita belum siap kehilangan dirinya, kita belum siap untuk kehilangan semangat, maka itu kita memaafkan kesalahan orang tersebut, supaya kita tetap bersama, inikah yang dinamakan cinta? apakah ini yang dinamakan cinta atau mencintai diri sendiri, terserah yang mana yang penting masih ada kata cinta.
Mungkin akan menjadi dua arti, arti pertama karena takut kehilangan orang itu, kita takut hari esok, takut merasakan sakit pedihnya kehilangannya, makanya kita siap memaafkan, sebenarnya secara ga langsung kita sudah mencintai diri sendiri, kita tidak ingin diri kita merasakan sakitnya sengsaranya tanpa semangat karena dia pergi, arti yang kedua kita memaafkan karena kita mencintai orang tersebut, sehingga kita memberikan kesempatan itu lagi.
Mana yang terpenting mencintai diri sendiri atau mencintai martabat diri sendiri? mencintai diri sendiri, karena kita tidak siap sedih, tidak siap merasakan kehilangan dan kekosongan, makanya kita memaafkan.
Tapi mencintai martabat diri sendiri, hanya karena kita sombong, kita tidak ingin orang lain "menginjak-injak" martabat hidup kita, kita terlalu merasa bahwa tidak ada seorangpun yang boleh. Mana yang harus didahulukan mencintai diri sendiri atau mencintai martabat kita? jawabannya tidak tahu, tergantung lebih sakit yang mana nantinya, yang mana yang lebih worth it untuk didahulukan, depends on the case.
But one thing that i know, I'M NOT A QUITTER, I'M A TOUGH WOMAN, WHATEVER HAPPENS, I KNOW I'M A T0UGH WOMAN COZ GOD ALWAYS ON MY SIDE, AND WHEN HE IS HERE WITH ME EVERYTHING IS POSSIBLE. AND ONE MORE TIME, WHEN I'M QUESTIONING MY CAPABILITY, I ALWAYS SAY TO MY SELF, "HEY, YOU ARE A TOUGH WOMAN, AND YOU ARE NOT A QUITTER" AMEEN
Embun Pagi